Sabtu, Oktober 07, 2006

Tak Seorangpun Ingin Menjadi Pengemis



Suatu ketika saya menumpang mobil seorang kawan--panggil saja namanya Sulton--menuju tempat kerja. Kami berdua memang bekerja di perusahaan yang sama. Sebelum menuju tempat kerja, ia mengantar putrinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika mobil berhenti di lampu merah, seperti biasa mobil langsung dihampiri beberapa pengemis. Mulai dari yang masih anak-anak, ibu-ibu sambil membawa balitanya, hingga nenek-nenek yang sudah renta.

Sulton berkali-kali mengangkat tangannya dan menempelkan ke jendela mobil pertanda dia tak bisa memberi sedekah. Sampai tiba ada seorang gadis yang menghampiri mobilnya. Dari tatapan matanya, terlihat sekali gadis yang mungkin masih belum genap berusia 20 tahun itu mengharapkan belas kasih.

Meskipun tangan kawan saya tadi tetap ditempelkan di jendela, namun gadis itu tetap saja tak beranjak dari tempatnya. Sambil menengadahkan tangannya, dengan lirih gadis itu meminta belas kasih. "Sedekahnya pak..saya punya adik yang belum makan," rengek gadis itu.

Kawan saya bergeming dan tak berusaha mengambil uang receh yang tercecer di dashboardnya.

Karena merasa kasihan, saya pun langsung berusaha merogeh pecahan seribuan yang ada di dalam kantong jeans belel saya. "Tak akan miskin orang yang memberi orang lain yang membutuhkan," ujar saya dalam hati. Sebelumnya, jujur saja saat itu saya menimbang-nimbang akan memberi sedekah berapa bagi gadis itu. Maklum saja, kantong saya saat itu memang lagi kering.

Ketika berusaha menjulurkan tangan yang menggenggam pecahan seribuan, tanpa saya duga ternyata teman saya tadi menampik dan meminta saya menyimpan uang tersebut. "Nggak usah diberi. Biar saja. Sebentar lagi dia kan pasti akan menyingkir," ujar Sulton dengan mimik serius.

Tak lama mobil pun bergerak dan meninggalkan asap dan debu bagi gadis yang sepertinya melakukan aksi minta-minta itu dengan terpaksa.

"Orang-orang seperti itu nggak usah diberi. Mereka itu hanya pura-pura saja. Saya malah jengkel lagi kalau ada yang muda seperti tadi meminta-minta. Ketimbang mengemis, bukankah mereka bisa mencari pekerjaan yang lebih terhormat. Kalau kita memberi, berarti kita membenarkan keberadaan mereka. Mereka itu anggota sindikat," ujar Sulton seolah membenarkan sikapnya.

Ia pun menambahkan, banyaknya pengemis di jalan-jalan tanpa sengaja merupakan 'ciptaan' masyarakat sendiri. Kata dia, orang memutuskan menjadi pengemis setelah menganggap meminta-minta di jalan lebih mudah dilakukan ketimbang harus berjualan di perempatan.

"Lihat saja, kita lebih suka memberi uang receh kepada pengemis ketimbang membeli dagangan seorang anak. Ini sangat tidak mendidik. Lambat laun anak tersebut akan mempunyai pemikiran bahwa lebih baik mengemis ketimbang berjualan," ujarnya.

Pendapat Sulton yang terakhir memang benar meskipun tak dapat dibenarkan seluruhnya. Awalnya saya hanya diam mendengarkan penjelasannya. Namun akhirnya saya memutuskan untuk membantah pernyataannya. Bagaimanapun juga saya tak bisa menerima pernyataannya bahwa semua yang dilakukan para pengemis itu adalah pura-pura. Sebab, saya meyakini bahwa tak ada satupun manusia di dunia ini yang menginginkan peran itu.

Saya memang pernah menjumpai seorang pemuda yang berpura-pura kehilangan kakinya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana pemuda itu menekuk kakinya dan melumurinya dengan obat merah agar terlihat seperti terluka. Terlepas apa yang dilakukan oleh si pemuda itu, bagaimanapun juga dalam hati kecilnya ia sungguh tak ingin menjalani peran itu. Suatu pekerjaan yang berat harus berada di bawah panas terik matahari sembari duduk dengan kaki terlipat hanya dengan beralaskan celana kain yang sudah compang-camping di sana-sini.

Pernah juga saya menjumpai seorang pemuda yang biasanya berdiri di atas viaduk Gubeng sembari memegang tangannya pertanda ia sangat kelaparan namun ternyata di sore hari ia dijemput dengan menggunakan minibus.

Apa yang dilakukan oleh kedua pemuda tadi memang tak dapat dibenarkan. Namun, terlepas dari patokan apapun yang ada di dunia ini, saya meyakini bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya di luar kehendak mereka.

Semua orang pasti ingin kaya, semua orang ingin berkecukupan, dan semua orang pastinya selalu ingin pada posisi tangan di atas daripada tangan di bawah. Itu merupakan fakta yang tak mungkin terbantahkan.

Bukan kita yang menciptakan mereka. Keadaan serta himpitan ekonomi yang maha hebat yang membuat mereka kehilangan rasa malu. Saya yakin kedua pemuda atau bahkan para pengemis yang ada di seluruh dunia ini memang tak mempunyai pilihan selain harus mengorbankan harga diri demi sesuap nasi.

Maka, berbahagialah kita yang masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memilih. Memilih untuk tak menjadi pengemis. Bahagialah kita yang masih diberi kesempatan oleh Allah dapat memberi orang lain sekecil apapun pemberian itu. Maka, mulailah untuk saling berbagi tanpa ada perasaan curiga akan dikemanakan pemberian kita itu. Sebab, itu merupakan urusan Allah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar