Senin, Februari 09, 2009

Menjadi Manusia Merdeka



Free Hit Counter

Rabu, 17 Desember 2008 merupakan hari terakhir saya berkarier di Surabaya Mandiri Group. Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai redaktur di koran lokal yang kini berkembang pesat itu. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ada konflik dengan sesama karyawan, bukan karena sedang marah atau bukan pula dalam situasi yang tidak menyenangkan karena dipindah halaman yang saya senangi.
Mungkin terasa aneh pada posisi itu tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya memutuskan keluar dari Republika. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari SMG.

Jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari SMG. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese. Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari SMG. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi lumayan di suatu perusahaan, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. "Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya," ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon masih penuh enerji. Dinamis. Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Minggu, November 09, 2008

Lokalisasi Dolly: Dengan Rp 150 Ribu, Bisa Kencani PSK ‘Bau Kencur’










Free Hit Counter


Surabaya adalah Kota Pahlawan. Surabaya adalah Lontong Balap dan Semanggi. Surabaya adalah Dolly. Citra itulah yang tertanam di benak warga luar Surabaya, dan bahkan mungkin luar negeri. Keberadaan lokalisasi Dolly sudah menjadi bagian dari ikon Surabaya.
Para pelancong belum terasa menginjakkan kaki di kota ini kalau belum mampir ke sana.
Sore itu, Dolly mulai menggeliat dari tidurnya. Sejumlah lelaki berperawakan besar menyiapkan dan membersihkan wisma-wisma. Ada yang menyapu, membersihkan kaca, dan bahkan mengepel lantai. Di dalam wisma, beberapa gadis muda dan seksi berdandan dan bercanda dengan sebaya.
Itulah sebagian potret lokalisasi Dolly. Lokalisasi ini kini menjadi favorit karena lokasinya yang strategis. Atraksi penawaran PSK dengan memajang mereka dalam etalase kaca seperti ”ikan dalam akuarium” punya daya tarik tersendiri. Meski tak tampak ada papan nama bertuliskan ”Dolly”, daerah itu menjadi magnet yang menggaet para lelaki hidung belang.
Ada sedikitnya 58 wisma di Dolly. Wisma-wisma ini berlomba-lomba menawarkan ‘barang’ dagangan dengan beragam cara. Selain selalu menghadirkan ‘barang’ baru, pemilik wisma juga merekrut makelar atau calo. Jangan heran jika setiap melintas di sini tangan Anda ditarik-tarik untuk sekadar melihat ‘barang’ yang mereka tawarkan.
Berdasarkan data yang dimiliki Yayasan Abdi Asih, jumlah PSK di sini sedikitnya 221 orang. “Kemungkinan bertambah dan kecil kemungkinan berkurang karena itu data tahun 2007,” kata Vera, aktivis Yayasan Abdi Asih, kemarin.
Karena kualitas ‘barang’ lebih baik ketimbang lokalisasi lain, maka jangan heran jika tarifnya lebih mahal. Mereka mematok tarif antara Rp 75 ribu – Rp 150 ribu per jam.
Semakin muda dan cantik, semakin mahal pula tarifnya. “Terserah mau main berapa kali. Yang penting satu jam segitu,” ujar Dewi, salah satu PSK Dolly.
PSK-PSK itu berasal dari penjuru Indonesia. Ada yang datang dari Bandung, Bogor, Sukabumi, dan bahkan Kalimantan. “Sekarang yang lagi ngetrend dari Sukabumi. Ceweknya cakep-cakep, bersih, dan nggak rewel,” ujar Kartono, salah satu makelar PSK di Dolly.
Usia PSK di sini banyak yang masih ‘bau kencur.’ Dalam operasi yustisi yang sering dilakukan petugas memang lebih 17 tahun. Padahal, menurut Kartono, banyak PSK yang masih berusia di bawah 17 tahun. Bagaimana mereka bisa ada di sini meski masih belia?. “Semua bisa diatur mas. Sing penting lhak duwike. Nek onok dhuwik, opo sih sing gak isok diakali,” katanya sembari tersenyum. Banyak juga PSK yang ada di sana sebenarnya korban penipuan sindikat perdagangan anak. Salah satunya Dhani (17 tahun). PSK asal Blitar ini mengaku korban penipuan seorang lelaki yang dikenalnya di Terminal Bungurasih. Dua tahun lalu, ia nekat mengadu nasib di Surabaya karena kampung halamannya tak lagi bisa diharapkan. Tujuannya, bekerja di kawasan Perak di mana salah satu rekannya bekerja di sana sebagai karyawan toko. “Awalnya sedih. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya kok memang lebih enak. Banyak uang dengan sedikit keringat,” katanya sembari tertawa lepas.
Dalam sehari, biasanya ia melayani antara 2-3 tamu dengan tariff Rp 100 ribu. Uang yang didapat, kata dia, masih dipotong Rp 30 ribu untuk ‘maminya.’ Kalau dirata-rata, dalam semalam dia minimal mendapat Rp 140 ribu. “Kadang ada tamu yang baik dan memberi uang lebih,” katanya.
Meski sudah mendapat uang berlebih, ia bertekad untuk keluar dari Dolly setelah hutangnya pada pemilik wisma lunas. “Awal bekerja saya dikasih uang Rp 10 juta. Uang itu sudah habis untuk beli sapi, baju dan handphone,” tandasnya.
Dolly memang punya sejarah unik, lokasi strategis, dan cara menjajakan pelacur yang dramatis. Pada mulanya Dolly hanyalah kawasan pemakaman China di daerah pinggiran kota yang sepi. Tahun 1960-an, makam itu banyak dibongkar untuk dijadikan hunian.
Tahun 1967, seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina, Dolly Khavit, mendirikan rumah bordil di Jalan Kupang Timur I. Lantaran dianggap sebagai perintis, Dolly kemudian diabadikan sebagai nama daerah itu. ”Dari hanya beberapa wisma, Dolly lantas berkembang menjadi kawasan pelacuran yang ramai tahun 1980-an,” kata Sugeng, mantan germo di Dolly.n kha/arz

Lokalisasi Jarak: Esek-eseknya Murah, Dan Lain-lainnya Bikin Kantong Jebol



Suasana lokalisasi Jarak di pagi hari.


Free Hit Counter

Lokalisasi prostitusi Putat Jaya berada satu kawasan dengan Dolly. Meski bersebelahan, namun masing-masing lokalisasi memiliki banyak perbedaan. Di antaranya; PSK yang praktek di lokalisasi Jarak umumnya sudah "STW". Dalam menjaring tamu, para PSK di Jarak juga cukup menampakkan dan menjajakan dirinya di depan wisma-wisma tinggalnya. Tak ada teriakan makelar menawarkan ‘barang’ sehingga lelaki hidung belang bisa lebih bebas memilih pasangan kencan.
Satu hal lagi yang membedakan kedua tempat pelacuran ini adalah tarif. Di Dolly berlaku harga pas, kalau pun bisa ditawar paling hanya bergeser sedikit saja dari harga semula. Sedangkan di Jarak dibutuhkan kemampuan tawar menawar. Rata-rata tarif sekali kencan dengan wanita di Jarak berkisar antara Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per jam.
Persamaan antara Dolly dengan Jarak adalah keduanya tidak berlaku short time maupun long time. Sebab, pembayaran dilakukan berdasarkan durasi. “Nggak masalah mau main berapa kali. Yang penting bookingnya per jam,” katanya.
Lokalisasi seluas 3 hektare ini, selain menyediakan kamar-kamar untuk check-in berukuran 1 x 2 meter, juga terdapat ruang karaoke. Di sini pelanggan bebas memilih lagu-lagu yang disukainya sambil ditemani menyanyi wanita-wanita itu.
Menurut data dari Yayasan Abdi Asih, sebuah lembaga sosial yang dikenal memiliki kepedulian melakukan pendampingan terhadap PSK, jumlah PSK di Jarak sebanyak 2.060 orang dan menempati 385 wisma. Angka ini, menurut Vera—Koordinator Abdi Asih--, kemungkinan besar terus bertambah sebab itu merupakan data tahun 2007.
“Faktor kemiskinan merupakan pemicu utama. Dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat. Ini sebuah angka yang fenomenal. Bayangkan, ada ribuan PSK di satu kelurahan yang sama,” tuturnya.
Lokasi yang strategis, tarif yang relatif terjangkau, dan banyaknya pilihan ‘barang’ menjadi magnet lokalisasi ini.
Salah satu pelanggan tetapnya adalah Winarso (40). Supir angkot yang ditemui Surabaya Pagi di sebuah warung kopi di kawasan Jarak ini mengaku jajan ke Jarak menjadi rutinitasnya sejak remaja. “Sudah kadung kepincut dengan suasananya. Saya kalau main ya di sini ini (Jarak, red). Pertama karaoke sambil minum bir, lalu nyarung,” katanya tanpa malu-malu. Nyarung merupakan istilah lazim bagi lelaki yang main dengan PSK di sini. Setiap kali berkunjung, ia harus merogoh kocek dalam-dalam. Sejak menginjakkan kaki hingga pulang, pengunjung lokalisasi memang harus mengeluarkan uang. “Mulai parkir, karaokenya, mbayar PSK untuk nemani karaoke, bir, nyarung, dan ke ponten. Nggak ada yang gratis mas di sini,” katanya seraya tertawa lepas. Paling tidak, setiap kali berangkat ia membawa sangu Rp 500 ribu. Dan itu, biasanya habis dalam semalam. Padahal, dalam sebulan ia biasanya datang ke Jarak bisa sampai 3 kali. “PSKnya memang murah. Dan lain-lainnya itu lho sing nggarai kantong jebol,’’ katanya.
Cerita Winarso dapat dijadikan gambaran betapa besarnya perputaran uang di lokalisasi ini. Jika satu PSK di Jarak melayani 3 tamu semalam dengan tarif rata-rata Rp 50 ribu, uang yang beredar Rp 309 juta. Jika dikalikan lagi dalam sebulan maka ketemu angka Rp 9, 27 miliar. Itu hanya perputaran uang jasa pelayanan seks oleh PSK, belum mencakup penjualan minuman, makanan, dan lain-lain.

Taruhlah jika satu wisma menjual satu krat bir seharga sekitar Rp 250.000 per krat, maka total transaksi penjualan bir dari 385 wisma di Jarak mencapai Rp Rp 9.625.000 dalam semalam. Dan dalam sebulan ketemu angka Rp 2,8 miliar untuk penjualan minuman saja.
Tak hanya malam hari, perputaran ekonomi juga menggeliat pada pagi dan siang hari, ketika para PSK sedang beristirahat. Saat itu, banyak ibu rumah tangga mencucikan baju para PSK, pedagang pakaian menawarkan pembelian kredit, dan para pedagang minuman memasok bir atau bermacam minuman keras lain.
”Cuci satu baju Rp 1.000, celana panjang Rp 1.500, satu singlet Rp 500. Satu
hari, saya bisa dapat Rp 30.000,” kata Narti (37), warga Putat Jaya yang
menekuni jasa cuci baju sejak lima tahun terakhir.n kha/arz