Minggu, November 09, 2008

Lokalisasi Klakahrejo: Tempat Terpencil, Kualitas ‘Barang’ Bikin Mata Mecicil



GEMUK YA: Inilah salah satu model PSK di lokalisasi Klakahrejo. Memang sih terlihat gemuk, tapi --menurut germonya--wajahnya mirip Nafa Urbach.


Free Hit Counter


Surabaya benar-benar dikepung dengan lokalisasi prostitusi. Di bagian barat, sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Surabaya, terdapat kompleks pelacuran di Desa Klakah Rejo, Kecamatan Benowo. Lokalisasi ini berada tak jauh dengan lokalisasi Moroseneng di Sememi yang terkenal itu. Meski berada di kawasan pinggiran dan perbatasan kota, namun kedua lokalisasi ini lebih baik ketimbang lokalisasi Dupak Bangunsari dan Tambakasri. Karena itu, kawasan ini biasa dikunjungi hidung belang kelas menengah yang memburu kenikmatan sesaat.
Namanya memang kalah popular dengan Moroseneng. Namun bagi lelaki hidung belang, ini merupakan salah satu lokalisasi favorit. Letaknya yang terpencil plus ‘barang’ yang relatif muda, sungguh menjadi magnet tersendiri. Memang, jika kurang teliti mengamati wilayah ini sulit membedakan mana yang rumah tangga biasa dan mana yang rumah yang dijadikan wisma PSK. “Karena itu enak njajan nang kene. Nek ketemon dulur, ngomong ae dolen nang konco,” ujar Adi—bukan nama sebenarnya--, salah satu pelanggan lokalisasi ini.
Wisma PSK di Klakah Rejo dipusatkan di Gang Barokah yang berada di wilayah RW II, Kelurahan Klakah Rejo, Kecamatan Benowo.
Di lokalisasi ini, sedikitnya terdapat 47 wisma dengan 167 PSK yang berusia antara 20-30 tahun dengan tarif antara Rp 50 ribu – Rp 100 ribu.
Namun beberapa tahun terakhir pamor lokalisasi ini meredup. Ini terlihat dari jumlah PSK dan wisma yang semakin berkurang.
Ketua RW II, Kuswadi mengatakan, pihaknya tak tahu pasti mengapa terjadi penurunan. Yang jelas, tahun lalu di lokalisasi ini sedikitnya masih ada 200 PSK yang menjajakan diri di 50 wisma yang ada.
“Mungkin saja merasa modal sudah cukup dan membuka usaha di kampung halamannya. Sekarang saja banyak yang masih belum pulang setelah libur lebaran,” katanya.
Pernyataan Kuswadi itu dibenarkan Titin (27), PSK Wisma Flamboyan.
Menurutnya, banyak rekan-rekannya sesama PSK yang mentas setelah merasa mengantongi cukup uang untuk membuka usaha. Gadis jebolan SMP ini pun mengaku akan melakukan hal serupa jika uang yang ia kumpulkan dari hasil menjual diri sejak lima tahun silam, itu cukup untuk membuka usaha.
Saat ini, ia sudah memiliki sebuah toko yang menjual kebutuhan rumah tangga di kampung halamannya di Blitar. “Alhamdulillah mas punya took. Sekarang lagi ngumpulin uang untuk membuka usaha lain,” katanya.
Menurutnya, menjadi seorang PSK merupakan pilihan terakhir setelah sebelumnya ia mencoba pekerjaan lain. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya, ia bekerja di sebuah warung makan. Menganggap beban kerja yang tak sesuai dengan uang yang didapat, Titin akhirnya keluar. “Pertama kerja di warung aku dibayar Rp 280 ribu sebulan. Dapat apa dengan uang segitu. Padahal, setiap bulan aku harus mengirim uang ke kampung untuk emak,” katanya.
Dia pun tergiur dengan tawaran seorang teman lelakinya yang menawarkan pekerjaan dengan penghasilan lima kali lipat. “Saya langsung tertarik dan mau saja diajak ke Moroseneng,” katanya.
Tak satupun keluarga dan rekannya di kampung yang tahu profesinya sebenarnya. Dia menutup rapat-rapat pekerjaan yang dianggapnya hina ini. Bahkan suaminya yang kini berada di Malaysia sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), pun tak tahu pekerjaan yang dilakoninya saat ini. “Suamiku tahunya aku kerja di Surabaya. Itu saja,” katanya.
Di lokalisasi ini ada banyak Titin-Titin lainnya. Mereka ada yang memang sejak awal berniat menjadi PSK, namun ada juga yang terpaksa karena kadung kebujuk. Ada yang sudah remaja, namun tak sedikit yang benar-benar masih belia.
Awal bulan Juli tahun ini, Polwiltabes Surabaya bahkan berhasil mengungkap penjualan
dua gadis di bawah umur yang melibatkan seorang sekretaris desa di Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan.
Modusnya, sekdes berinisial BD ini membantu memalsukan KTP dua gadis bernama Desi dan Ratna (keduanya nama samaran). Usia Desi diubah dari 16 tahun menjadi 22 tahun, dan usia Ratna diubah dari 17 tahun menjadi 23 tahun. Sebelumnya, kedua gadis itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya.n kha/arz

Lokalisasi Kremil: Tahu Diri, Tak Marah Dibayar Seikhlasnya



SEPI: Ini suasana Kremil saat siang hari. Terlihat sepi meski ada beberapa PSK yang sudah mejeng. Tuh di dekat gapura ada salah satu PSK yang mejeng sambil asyik nelpon.


Free Hit Counter

Lokalisasi prostitusi Tambakasri ini juga disebut sebagai lokalisasi Kremil. Ini merupakan satu di antara 6 lokalisasi prostitusi di Surabaya yang masih eksis. Lokalisasi yang terletak di wilayah Kecamatan Krembangan, itu juga dikenal sebagai lokalisasi untuk warga kelas menengah-bawah. Maklum saja, tarif PSK di lokalisasi dengan jumlah PSK terbesar kedua setelah lokalisasi Jarak (versi Dinsos) ini memang relatif murah meriah. Cukup mengeluarkan uang antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu, syahwat pun terpuaskan.

Siang itu, Tutik (55) terlihat serius membersihkan halaman rumahnya yang berdebu. Ia pun semangat membersihkan kaca bening berukuran 2 x 3 meter yang terbungkus tembok depan rumahnya. Tutik adalah satu di antara sekian banyak mami PSK di lokalisasi yang juga biasa disebut Kremil itu. Tak ada papan nama di depan wisma yang sekaligus ia jadikan tempat tinggalnya. Yang membedakan rumah miliknya dengan rumah tangga biasa adalah di atas pintu masuk terdapat plat seng bertuliskan ‘Anggota TNI Dilarang Masuk.’
Tutik tergolong wajah lama di Tambakasri. Sudah sejak umur 20 tahun dia ‘terjebak’ di sini. “Kebujuk wong lanang,” katanya singkat.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, ia mengaku tak tahu apa-apa. Maklum, saat itu ia hanya gadis desa biasa yang mencoba mengadu untung di Surabaya. “Tahu-tahu diajak ke sini disuruh kerja di warung dan jualan bir. Lama-lama kok keterusan dan (maaf) jadi lonte,” katanya.
Tahun 1981, ia naik kelas menjadi germo sekaligus pemilik wisma bermodal uang tabungan selama jadi PSK. Wisma miliknya berukuran 6 X 10 meter, dengan dinding terbuat dari triplek. Ada 6 sekat ruang yang 5 di antaranya ia fungsikan sebagai kamar anak buahnya. Di teras rumah terdapat meja besar dan etalase sederhana yang ia gunakan berjalan nasi dan minuman ringan. “Meski elek, sing penting iso gawe ndelek duwek gawe nyambung urip,” katanya.
Meski begitu Tutik masih beruntung. Banyak rekan-rekan seusianya yang hingga kini masih menjajakan diri. Karena sudah kewut (baca:tuwek), tentu saja penghasilan yang mereka terima tak menentu. Memang, di Tambakasri dikenal sebagai lokalisasi khusus PSK kewut. Kalaupun ada yang ‘muda’ itupun berusia di atas 30 tahun. “Yang di bawah 30 tahun bisa dihitung dengan jari. Yang banyak di atas 40 tahun dan 50 tahun juga banyak,” kata Tutik.
Sri (35), salah satu PSK asal Madiun merupakan primadona wisma Tutik. Meski menjadi primadona jangan dibayangkan jika Sri bergelimang harta. Dalam sehari ia maksimal hanya mengantongi uang Rp 50 ribu dari hasil menjual diri. “Saya tidak memasang tarif mas. Hanya berharap kerelaan tamu saja. Dikasih berapapun saya terima. Namun pasarannya memang antara Rp 25 ribu – Rp 50 ribu,” kata Sri.
Menurutnya, lokalisasi Tambakasri semakin meredup. Saking sepinya, terkadang ia terpaksa mulai ‘praktek’ sejak siang bolong. “Mungkin aja ada yang mampir,” katanya.
Meski dianggap sepi, namun PSK yang masih bertahan di sana cukup banyak. Data tahun 2007 yang dilansir Dinas Sosial menyebutkan, jumlah PSK di Tambakasri mencapai 1.600 orang. Jumlah ini terbesar kedua setelah lokalisasi Jarak yang berisi 2.543 PSK. “Banyak yang seharusnya pensiun tapi tetap kerja. Makanya jadi yang terbanyak,” ujar Tutik dengan tawa lepas.
Namun data ini dibantah Sekretaris RW setempat, Agus Purnomo. Dari data yang ia miliki, jumlah PSK saat ini sebanyak 435 orang dan tersebar di 143 wisma. Setiap PSK-PSK itu dikenai retribusi atau yang menurutnya uang kontrol sebesar Rp 5 ribu. Hasil yang terkumpul digunakan untuk biaya operasional RW dan petugas keamanan.n arz

Kamis, Oktober 23, 2008

Lokalisasi Bangunsari: Khusus Penggemar Estewe



WAKER BR: Nih fotonya Pak Slamet lagi nunjukin aktivitas PSK di sana. Beliau penjaga atau petugas kontrol di BR.


Free Hit Counter

Layak kiranya jika Surabaya disebut sebagai Kota Prostitusi. Di kota ini bisnis seks tumbuh subur layaknya cendawan di musim hujan. Ada 6 lokalisasi prostitusi yang tersebar di berbagai kawasan, yakni; lokalisasi Tambakasri, Dupak Bangunsari, Dolly, Jarak, Sememi, dan Klakah Rejo. Belum lagi PSK yang memilih ‘independen’ dengan menjual diri di jalanan seperti di Jl Diponegoro, Jl Embong Malang, dan kawasan Wonokromo dan Jagir. Surabaya Pagi secara berseri menurunkan laporan mengenai potret masing-masing lokalisasi itu. Berikut laporan pertama yang diawali dengan lokalisasi Dupak Bangunsari.
Senja itu, Lastri (35 tahun) mulai sibuk berdandan. Setelah mengulas bedak di wajah dan menoreh lipstik di bibir, ia kemudian duduk tenang di depan rumah. Pandangan matanya tajam menatap laki-laki yang lalu lalang di depannya. Tak ada suara, hanya lambaian ringan mengundang para lelaki itu untuk menghampirinya.
Lastri adalah satu di antara 350 PSK di Dupak Bangunsari yang masih bertahan. Usianya memang sudah tak muda, namun ia masih menjadi primadona di sana. Di antara rekan-rekannya sesama profesi, ibu dua anak ini memang paling cantik dan menarik.
Karena itu, meski sudah estewe ia masih percaya diri ‘mengusir’ tamunya jika merasa tamu itu berpenyakit. Menurutnya, tak ada patokan pasti ciri-ciri seseorang mengidap penyakit kelamin. Ia hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman selama berpuluh tahun menjadi PSK untuk menyeleksi tamu-tamunya. “Elek-elek ngene awak dhewe yo gak gelem sembarangan mas,” katanya.
Ia memasang tarif Rp 60 ribu untuk dua kali main selama satu jam. Dalam semalam, ia mengaku tak lebih melayani 2 tamu saja. Hasil ‘jualan’ tak utuh ia kantongi. Dari tarif Rp 60 ribu itu, ia hanya mendapat Rp 35 ribu saja. “Sisanya untuk bayar kamar dan kontrolan. Untuk orang seusia saya kerjo opo maneh oleh duwik sak mene nek gak dadi (maaf) balon,” tuturnya.
Ia mengaku dari tahun ke tahun pamor lokalisasi yang biasa disebut BR—akronim Bangunsari--, itu semakin meredup. Saat pertama terjun di BR lima tahun lalu, jumlah PSK masih ribuan. Di sini tak berlaku hukum dagang di mana semakin sedikit barang maka harga meningkat seiring dengan melonjaknya permintaan. Dengan berkurangnya PSK maka menyusut pula jumlah tamu karena menganggap pilihan semakin sedikit. “Inilah bedanya jualan minyak dengan jual diri,” ujar Lastri sambil tertawa lepas.
Memang benar apa yang dikatakan PSK asal Blitar itu. Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Surabaya, di tahun 2007 jumlah PSK di Surabaya mencapai 4.191 orang. Angka ini menurun dibanding tahun 2006 yang mencapai 8.009 orang.
Lokalisasi Dupak Bangunsari merupakan penyumbang terbesar penurunan angka tersebut. Saat ini, hanya 350 PSK yang masih bertahan di sana. Padahal, sekitar lima tahun lalu, PSK di lokalisasi itu mencapai 3.000 orang dan tersebar di 15 gang yang ada di sana.
Ketua RW IV Dupak Bangunsari, Totok Basuki Rahmad mengatakan, jumlah PSK di wilayahnya terus menurun dari tahun ke tahun. Berdasarkan data yang dimilikinya, tahun 2007 ada 380 PSK dan di tahun 2008 menyusut lagi menjadi 350 PSK. PSK-PSK ini tersebar di 70 wisma dan terkonsentrasi di wilayah RW IV agar mudah pembinaannya.
Menurutnya, selama ini tak pernah terungkap kasus child trafficking (perdagangan anak dan dijadikan PSK) di wilayahnya karena memang sejak dulu BR merupakan lokalisasi prostitusi estewe. “Ikut hukum alam. Di sini ini khusus PSK estewe. Yang muda jelas saja di Dolly,” katanya.
Ke mana PSK itu?”Ada yang pindah ke Kremil (Lokalisasi Tambak Asri, red), banyak juga yang tobat,” tukasnya.
Menurunnya jumlah PSK di sana, tak lepas dari kiprah sejumlah tokoh agama baik dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang terjun di sana.
Salah satunya adalah Muhammad Hatta. Bersama rekan-rekannya sesama pengurus Muhammadiyah Cabang Krembangan ia mengawali dakwah dengan membangun masjid.
Dia berpikir, jika ada rumah ibadah, paling tidak, setiap hari mucikari dan PSK mendapatkan pencerahan dari corong-corong pengeras suara.
”Paling tidak, mucikari atau PSK bisa mendengarkan suara azan, suara orang melafalkan Alquran dalam jarak cukup dekat. Kami juga rutin menggelar ceramah-ceramah di masjid supaya mereka selalu ingat,” tuturnya. Hatta termasuk salah seorang penceramah yang aktif berbicara melalui pengeras suara. ”Materinya itu tadi, agar masyarakat tabah menghadapi cobaan, tidak gampang putus asa, dan selalu berusaha menjadi lebih baik,” katanya.
Hatta dan rekan-rekannya juga mengadakan pengajian keliling dari gang ke gang. Setiap acara mereka menutup seluruh akses menuju wisma. ”Misalnya, pengajiannya di Bangunsari Gang I, seluruh akses jalan ditutup. Jadi, wisma tidak bisa beroperasi, minimal selama pengajian. Biasanya acara digelar pukul 19.00 hingga 21.00. Padahal, saat itu kan sedang ramai-ramainya tamu,” ucapnya. Bukan hanya PSK dan mucikari yang tidak bisa bekerja selama pengajian. Pria hidung belang yang akan suka jajan juga dipaksa balik kanan oleh acara itu. ”Saya kira, pengajian itu cukup memberikan kontribusi,” katanya.
Strategi selanjutnya jatuh pada pembelian aset milik mucikari. ”Selama ini, kalau ada wisma dijual, biasanya dibeli mucikari lain, kemudian didirikan wisma dengan nama baru. Ini yang juga kami antisipasi,” ucapnya. Lagi-lagi, Hatta menggalang bantuan donatur. Dia meminta kawannya yang punya uang lebih untuk membeli wisma-wisma yang dijual pemiliknya. ”Akhirnya, banyak wisma yang dibeli jamaah kami, kemudian dibuat sebagai tempat tinggal,” tandasnya.arz